Radikal Bebas, Stres Oksidasi, Diabetes Mellitus dan Kerusakan Hati


Radikal Bebas


Radikal bebas adalah atom atau molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan. Radikal bebas tersebut biasanya tidak stabil dan sangat reaktif. Di dalam sistem biologi ada beberapa jenis radikal bebas, diantaranya adalah reactive oxygen species (ROS) dan Reactive nitrogen species (RNS). ROS adalah radikal bebas turunan dari molekul oksigen sedangkan Reactive nitrogen species (RNS) adalah radikal bebas turunan dari nitrogen. Radikal bebas dalam jumlah tertentu diperlukan oleh tubuh untuk dalam beberapa proses metabolisme, seperti sebagai sinyal transduksi, terlibat dalam pertahanan tubuh dan lain-lain. Tubuh memiliki beberapa enzim yang dapat menghilangkan radikal bebas dari dalam tubuh sehingga pada kondisi normal terjadi homeostasis yaitu keseimbangan antara radikal bebas dan anti radikal bebas.

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan terjadi ketidakseimbangan antara radikal bebas dan anti radikal bebas. Jika radikal bebas lebih tinggi daripada anti radikal bebas, tubuh akan mengalami kondisi yang disebut dengan stres oksidatif. Stres oksidatif ditandai dengan tingginya konsentrasi ROS dan RNS di dalam tubuh. Konsentrasi ROS yang tinggi akan memicu kematian sel melalui mekanisme nekrosis dan / atau apoptosis sel sehingga menyebabkan kerusakan jaringan atau organ, termasuk pada organ hati.



Tahapan kerusakan hati pada penderita diabetes mellitus


Kerusakan hati dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor dari luar dan faktor dari dalam. Faktor dari luar diantaranya disebabkan oleh alkohol, obat-obatan, toksin, virus, sinar ultra violet dan lain-lain. Faktor dari dalam disebabkan oleh obesitas, resistensi insulin dan lain-lain. Faktor dari luar maupun faktor dari dalam tersebut keduanya memicu terjadinya stres oksidatif di dalam hati.
kerusakan hati, liver injury, diabetes mellitus, hubungan diabetes mellitus dan kerusakan hati, kanker hati
Gambar 1. Penyebab stress oksidasi dan dampaknya pada hati
Hati merupakan salah satu organ yang rentan terkena dampak ROS akibat dari stres oksidatif.  Sel Kupffer, sel stellate, dan sel endothelium hati adalah sel yang paling sensitif terhadap stres oksidatif. Berbagai sitokin seperti TNF-α diproduksi oleh sel kupffer ketika terjadi stress oksidatif pada hati. TNF-α akan mengakibatkan terjadinya inflamasi dan apoptosis. Sementara itu, sel stellate akan terinduksi untuk melakukan sintesis kolagen.

Resistensi insulin yang merupakan penyebab dari hiperglikemia dan hiperinsulinaemia adalah faktor penyebab utama kerusakan hati pada penderita diabetes mellitus. Hiperglikemia memicu terjadinya stres oksidatif pada hati. Stres oksidatif selanjutnya menyebabkan berjalannya proses injury di hati dan diikuti oleh terganggunya keseimbangan homeostasis dalam metabolism lemak, protein dan karbohidrat. Kondisi tersebut selanjutnya memicu terjadinya proses inflamasi. Stres oksidasi dan inflamasi akan memperburuk kondisi patologi dari penderita diabetes mellitus.




Dalam berbagai kasus, diabetes mellitus menyebabkan akumulasi lemak yang berlebihan di dalam hati dan akan berkembang menjadi non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD). Sebanyak 2-3% penderita NAFLD mengalami inflamasi, nekrosis dan fibrosis yang kesemuanya merupakan gejala-gejala non-alcoholic steatohepatitis (NASH). Organ hati yang sedang dalam proses injury dan mengalami fibrosis akan berkembang menjadi sirosis kemudian terbentuk hepatocellular carcinomas (HCCs) dan akhirnya terjadi kegagalan fungsi hati. 
sirosis hati, sirosis liver, non alcoholic liver disease
Gambar 2. (A) Tahapan kerusakan hati pada penderita diabetes mellitus; (B) Penampang melintang tiap-tiap tahapan kerusakan hati. 

Hati mempunyai peran penting dalam mengatur kadar glukosa pada penderita diabetes mellitus. Pada penderita diabetes mellitus tipe 2, resistensi insulin akan menyebabkan hiperglikemia. Dalam kondisi hiperglikemia berat, tidak dideteksi ketersediaan glukosa sehingga terjadi mekanisme untuk menghasilkan lebih banyak glukosa dengan mengoptimalkan kerja beberapa enzim, diantaranya glukosa-6-fosfat dehydrogenase, fructose-1,6-diphosphate, hexokinase dan glukokinase. Hati juga akan melakukan regulasi sebagai upaya untuk mempertahankan homeostasis glukosa yaitu dengan memodulasi ekspresi protein protein sekretori, seperti hepatokin.

Beberapa tipe hepatokin yang diekspresikan diantaranya adalah fetuin-A, betatrophin/angiopoietin-like protein 8 (ANGPTL8) dan fibroblast growth factor 21 (FGF21). fetuin-A memicu inflamasi dan resistensi insulin dengan menghambat reseptor insulin tirosin kinase pada sel otot dan sel hati. ANGPTL8 memicu proriferasi sel beta pancreas dan FGF21merupakan hormone yang peka terhadap insulin. Ketiga hepatokin tersebut akan memperburuk kondisi penderita diabetes mellitus karena akan menyebabkan inflamasi sub klinik.

Berdasarkan beberapa penelitian, peningkatan produksi glukosa di hati pada penderita diabetes mellitus diduga meningkatkan oksidasi asam lemak, sebaliknya penelitian lain mengungkapkan bahwa peningkatan glukosa tersebut akan menghentikan oksidasi asam lemak dan digantikan dengan produksi trigliserida. Trigliserida tersebut selanjutnya akan diakumulasikan dalam sel hati.




Pada penderita diabetes mellitus, defisiensi insulin akan meningkatkan laju lipolisis dan sirkulaasi asam lemak bebas yang kemudian menumpuk di hati. Hal tersebut berakibat meningkatnya penyerapan very-lowdensity lipoprotein dan sintesis trigliserida. Secara bersamaan, terjadi juga meningkatan kadar glukagon yang akan menyebabkan terhambatnya pengeluaran (output) trigliserida. Oleh karena itu, penumpukan lemak dalam hati diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara penyerapan, sintesis, pengeluaran dan oksidasi asam lemak bebas di dalam hati.

Hyperinsulinemia yang terjadi pada penderita diabetes mellitus akan menurunkan kadar adiponectin, memicu lipogenesis dalam hati dan menurunkan laju oksidasi asam lemak bebas. Selain itu juga memicu sekresi tumor necrosis factor-α dan leptin yang menyebabkan terjadinya stress oksidatif di dalam hati. Kombinasi antara penumpukan lemak, hiperinsulinemia dan hiperglikemia di dalah hati menyebabkan terjadinya stress oksidatif di dalam hati. Stress oksidatif tersebut akan memicu terjadinya inflamasi dan nekrosis sel hati. Inflamasi yang terjadi kemudian akan menstimulasi sel stellate hati memproduksi kolagen sehingga akan terjadi fibrosis pada hati. Kondisi tersebut bisa berlanjut menjadi sirosis hati.

Kesimpulan

Stres Oksidasi adalah penyebab utama terjadinya kerusakan hati. Stres Oksidasi yang terjadi disebabkan oleh berbagai faktor dantaranya karena penyakit diabetes mellitus. Diabetes mellitus menyebabkan pergeseran homeostatis berbagai metabolism dalam hati, termasuk terjadinya penumpukan lemak, reaksi inflamasi dan fibrosis dalam hati.

Demikian postingan tentang Radikal Bebas, Stres Oksidasi, Diabetes Mellitus dan Kerusakan Hati, Semoga Bermanfaat
Read more

Adaptasi Proteomic selama Stres Oksidatif

Protein merupakan makromolekul dalam sel yang strukturalnya paling beragam dan kompleks. Protein mempunyai fungsi protein yang spesifik dan sangat ditentukan oleh struktul tiga dimensinya Sehingga setiap sel harus memastikan protein dan disintesis mempunyai struktur tiga dimensi yang sesuai meskipun berapa dalam kondisi stress.
Kondisi stress pada sel aerobic salah satunya mengakibatkan akumulasi reactive oxygen species (ROS) dan reactive chlorine species (RCS) dan keduanya sangat reaktif. ROS dan RCS dapat mengganggu proses metabolik, transkriptomik, dan proteomik. Protein adalah salah satu molekul yang diserang oleh ROS dan RCS karena banyak asam amino penyusun protein yang sangat sensitif terhadap oksidasi. Asam amino yang paling banyak ditemukan mengalami modifikasi ketika dalam keadaan stress adalah sistein dan metionin karena keduanya mempunyai kecepatan reaksi yang tinggi terhadap radikal hidroksil (~106–108 M-1s-1). Peroksida umumnya reaktif terhadap tiol (controh : peroxiredoxin). Protein cenderung mengalami sejumlah modifikasi rantai samping yang ireversibel, misalnya overoksidasi tiol, karbonilasi dan pembentukan di-tirosin. Rantai polipeptida yang baru saja disintesis merupakan bagian yang paling sensitive terhadap  rentang terdampak kondisi stress namun mature protein juga dapat terdampak kondisi stress.


Kontrol fungsi protein ketika terjadi stress oksidatif.

Kontrol fungsi protein ketika terjadi stress oksidatif melibatkan protein-protein yang sensitif terhadap reaksi redoks. Protein yang sensitif terhadap reaksi redoks ditandai dengan adanya satu atau lebih gugus tiol. Gugus tiol merupakan gugus fungsi yang reaktif dengan slow-acting oxidants, misalnya peroksida. Oksidasi yang terjadi pada protein tersebut akan menyebabkan perubahan ikatan disulfida intramolekul, ikatan disulfida intermolekuler, pembentukan asam sulfenat, asam sulfonat, atau sulfenilamida. Perubahan ikatan akan mengubah bentuk 3 dimensi protein sehingga protein tidak akan berfungsi dengan semestinya. Namun glutaredoxin dan thioredoxin mampu mengembalikan perubahan pada gugus tiol tersebut ke bentuk awal.

Adaptasi metabolik terhadap stress oksidatif

Rangkaian asam amino yang baru disintesis (belum membentuk struktur tersier / quartener) dan protein yang telah fungsional akan mengalami perubahan yang irreversible pada rantai samping sehingga menyebabkan ulfolding protein dan berpotensi terjadi agregasi protein yang irreversible jika dalam sel terdapat banyak ROS dan RCS. Sel memiliki mekanisme agar perubahan pada rantai samping tidak terjadi. Berbagai sel, mulai dari sel bakteri hingga sel mamalia mempunyai mekanisme yang hampir sama dalam merespon akumulasi ROS dan RSC, yaitu dengan menurunkan 50 % konsentrasi ATP. Penurunan ATP tersebut berkaitan dengan inaktivasi enzim yang terlibat dalam sintesis ATP. Inaktivasi enzim yang terlibat dalam sintesis ATP memicu re-routing glukosa dari glikolisis ke jalur pentosa fosfat. Hal tersebut secara efektif mampu menurunkan sintesis ATP dan menaikkan jumlah NADPH yang terbentuk. NADPH diperlukan dalam sistem thioredoxin dan sistem glutaredoxin yang keduanya sangat penting untuk memulihkan homeostasis redoks seluler. Beberapa bakteri (mungkin organisme lain juga) mengubah ATP dalam sel menjadi rantai panjang PolyP yang mempunyai kemampuan sebagai protein stabilizer sehingga menurunkan agregasi protein dan meningkatkan resistensi terhadap stress oksidatif.




stes oksidatif, kerusakan protein, degradasi protein
Gambar 1. Regulasi rangkaian sintesis protein ketika kondisi stres dan kondisi normal

Keterangan gambar :
Dalam kondisi non-stress, protein folding terjadi sesaat setelah proses translasi dan dibantu oleh canonical chaperone systems yang dalam mekanismenya membutuhkan ATP. Setelah proses protein folding selesai, protein dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Protein yang sudah tidak digunakan lagi kemudian didegradasi. Sinyal degradasi memicu ubiquitination dan 26S proteasome untuk mendegradasi protein.Mekanisme digradasi protein oleh 26S proteasome juga membutuhkan ATP. Dalam kondisi stress oksidatif, konsentrasi ATP di dalam sel menurun, sehingga menurunkan aktifitas yang membutuhkan ATP (aktivitas canonical chaperone systems dan 26S proteasome). Untuk melindungi dari degradasi dan agregasi protein karena ROS dan RCS, sel melakukan beberapa mekanisme yaitu (1) menurunkan laju sintesis protein, (2) mengaktifkan ATP-independent chaperone, (3) mengubah ATP ke polifosfat, (4) meningkatkan aktifitas ATP-independent 20S proteasome.




Adaptasi Protein Folding selama Stres oksidatif

Sel mempunyai strategi untuk untuk mencegah kesalahan dalam proses folding protein. Strategi tersebut meliputi upaya menurunkan konsentrasi asam amino yang rentang terhadap agregasi dan represi ekspresi gen. Represi gen dimediasi oleh eIF2a kinases yang memfosfolarisasi translational initiation factor 2 alpha (eIF2a). Fosfolarisasi eIF2a menyebabkan penurunan translasi mRNA cap-dependent. Pada waktu yang bersamaan, translasi mRNA cap-independent diinisiasi, dan menghasilkan protein yang terlibat dalam proses adaptasi dan protein untuk merespon stress.
            Ketika seluruh proses translasi terhenti, mRNA, faktor inisiasi, dan protein pengikat RNA lainnya akan berkumpul dalam granula stress dan p-body yang keduanya terbentuk pada saat terjadi oksidasi stress. Granula stress berperan melindungi mRNA dan memicu re-inisiasi translasi protein sesegera mungkin setelah oksidasi stress berakhir.

Adaptasi Degradasi Protein dalam kondisi stress oksidatif

Ketika protein tidak dibutuhkan lagi, protein akan ditempeli oleh ubiquitin. Kompleks protein dan ubiquitin akan dikenali dan didegradasi oleh 26S proteasome. 26S proteasome  tersusun dari sub unit 20S core yang kedua ujungnya terdapat sub unit 19S cap. Sub unit 19S cap mengenali dan mengikat kompeks protein-ubiquitin kemudian melepaskan ubiquitin dari ikatan dan memfasilitasi ikatan protein dengan sub unit 20S core (membutuhkan ATP). Sub unit 20S core mempunyai fungsi proteolysis yaitu mendegradasi protein menjadi asam amino.
Pada kondisi stress oksidatif, fragmen-fragmen protein yang tidak terfolding sempurna akan langsung menempel pada sub unit 20S core tanpa membutuhkan ATP. Oksidasi gugus tiol pada sub unit 20S core menyebabkan kedua sub unit 19S cap lepas dari 26S proteasome. Stress oksidatif yang kronis akan memicu ekspresi sub unit 11S dan sub unit i20C yang keduanya dapat mendegradasi protein tanpa membutuhkan ATP.

Demikian postingan tentang Adaptasi Degradasi Protein dalam kondisi stres oksidatif, SEMOGA BERMANFAAT

Read more

Adaptasi Mikroorganisme Terhadap Suhu



Bumi sebagai tempat hidup makhluk hidup, termasuk mikroorganisme, mempunyai keragaman suhu yang berbeda- beda antara satu tempat dengan tempat lain. Mikroorganisme tidak bisa mengontrol suhu lingkungannya, sehingga mikroorganisme harus beradaptasi dengan suhu lingkungan agar dapat bertahan hidup.

Ada beberapa istilah yang berhubungan dengan adaptasi mikroorganisme terhadap suhu, yaitu :

Suhu Minimum

Suhu minimum adalah suhu terendah dimana mikroorganisme dapat tumbuh dan melakukan aktivitas metabolisme. Apabila suhu di bawah suhu minimum tersebut, pertumbuhan dan metabolisme akan terhambat.

Suhu maksimum

Suhu maksimum adalah suhu tertinggi dimana suatu mikroorganisme dapat tumbuh dan melakukan aktivitas metabolisme. Apabila suhu di atas suhu maksimum pertumbuhan dan metabolisme akan terhambat dan bila suhu terusnya, sel akan mati karena protein dan asam nukleat terdenaturasi.

Baca Juga : Transport aktif pada Mikroorganisme



Suhu Optimum

Suhu optimum adalah suhu dimana pertumbuhan dan aktivitas metabolisme berjalan paling cepat. Suhu optimum berada di antara suhu minimum dan suhu maksimum.


Tiap-tiap spesies mikroorganisme mempunyai rentang suhu minimum, suhu optimum dan suhu maksimum yang berbeda-beda. Staphylococcus aureus hidup dan tumbuh pada suhu 60C hingga 460C sedangkan rhinoviruse hanya dapat memperbanyak diri jika berada pada suhu 330C hingga 350 C.
psikrofil, psikotrof, mesofile, termofil, dan hipertermofil (extreme thermophile)
Gambar 2. Rentang suhu minimum, suhu optimum, suhu maksimum psikrofil, psikotrof, mesofile, termofil, dan hipertermofil (extreme thermophile)

Berdasarkan rentang suhu adaptasinya, mikroorganisme dikelompokkan menjadi beberapa macam, yaitu :

Psikrofil

Psikrofil adalah mikroorganisme (bakteri, arkhaebakteria, fungi atau alga) yang mempunyai suhu optimum di bawah 150C dan dapat tumbuh pada suhu 00C namun tidak dapat tumbuh pada suhu diatas 200C. Perlakuan khusus harus dilakukan, ketika menumbukan mikroorganisme psikrofil di laboratorium. Inkubasi untuk menumbuhkan mikroorganisme psikrofil harus pada ruangan yang dingin. Inkubasi pada suhu ruang akan menyebabkan mikroorganisme psikrofil mati. Penyimpanan pada suhu dingin tidak akan menghampat pertumbuhan, namun mikroorganisme psikrofil tersebut justru akan tumbuh.

Baca Juga : Transport pasif : Difusi, osmosis dan difusi terfasilitasi
Mikroorganisme psikrofil tidak bisa hidup di dalam tumbuh di dalam tubuh manusia. Mikroorganisme psikrofil mempunyai habitat di tempat tempat dingin seperti salju, daerah kutub dan di laut dalam. Baru-baru ini telah berhasil diisolasi bakteri yang berasal dari antartika. Bakteri tersebut dapat hidup pada suhu -150C.
Beberapa mikroorganisme ada juga yang bersifat fakultatif psikrofil atau psikotrof yaitu dapat tumbuh pada suhu dingin (lambat) tapi pertumbuhannya optimum pada suhu 200C.
Adaptasi Mikroorganisme Terhadap Suhu
Gambar 2.  Chlamydomonas nivalis, merupakan jenis alga psikrofil yang hidup di salju 
\

Mesofil

Mesofil adalah mikroorganisme yang dapat tumbuh pada rentang suhu antara 100C hingga 500C dan suhu optimum pertumbuhan antara 200C hingga 400C. mikroorganisme mesofil dapat hidup pada tubuh manusia, hewan, tanaman, di iklim tropis, dan subtropis,
Mikroorganisme mesofil ada yang bersifat termodurik, yaitu dalam rentang yang singkat dapat bertahan hidup pada suhu yang tinggi. Sebagai contoh adalah Bacillus dan Clostridium. Bakteri termodurik sebenarnya merupakan bakteri mesofil, hanya saja bakteri tersebut biasanya mempunyai organela tambahan sehingga mampu bertahan beberapa saat di suhu yang tinggi.


Termofil

Termofil adalah mikroorganisme yang suhu optimum pertumbuhannya diatas 450C. Mikroorganisme termofilik dapat hidup pada suhu 450C hingga 800C sehingga habitatnya merupakan daerah-daerah yang panas, seperti pada kawah gunung aktif,
Selain termofilik, ada juga mikroorganisme hipertermofilik. Mikroorganisme hipertermofilik adalah mikroorganisme yang dapat tumbuh di suhu yang sangat ekstrim, yaitu diantara 800C hingga 1210C.
Para ilmuwan saat ini tertarik untuk mengisolasi dan memanfaatkan enzim dari mokroorganisme termofil. Salah satu bakteri termofil yang telah dieksplorasi adalah bakteri Thermus aquaticus. Bakteri tersebut menghasilkan enzim Taq polimerase yang saat ini digunakan dalam proses Polimerase Chain Reaction (PCR). Enzim Taq polimerase adalah enzim yang dapat memperbanyak DNA dan tetap aktif pada suhu tinggi.

Demikian postingan kali ini tentang Adaptasi Mikroorganisme Terhadap Suhu. SEMOGA BERMANFAAT

Read more

Transport aktif pada Mikroorganisme


Transport aktif adalah transport senyawa atau ion ke dalam sel atau keluar sel dengan melawan gradian konsentrasi. Secara alami molekul atau ion akan menyebar atau berdifusi dari konsentrasi tinggi ke  media konsentrasi lebih rendah.
Transport aktif didefinisikan transport senyawa atau ion dengan melawan gradien konsentrasi karena senyawa atau ion ditransportasikan dari konsentrasi yang rendah ke konsentrasi yang tinggi berlawanan dengan difusi senyawa atau ion secara alami. Untuk melawan gradient konsentrasi tersebut, transport aktif membutuhkan energi atau perantara.
Mikroorganisme seringkali hidup di lingkungan dengan nutrisi yang minim dan nutrisi-nutrisi tersebut seringkali tidak bisa masuk ke dalam sel dengan mekanisme transport pasif karena konsentrasinya di lingkungan rendah, sehingga mikroorganisme harus melakukan mekanisme transport aktif.
Mikroorganisme mempunyai mekanisme transport aktif yang sangat efektif sehingga terkadang nutrient yang berada dalam sel konsentrasinya ratusan kali lebih banyak daripada di luar sel.

Baca Juga : Transport pasif : Difusi, osmosis dan difusi terfasilitasi

Ada beberapa hal yang perlu diketahui dalam transport aktif pada mikroorganisme, yaitu :
1. Transport aktif bisa juga searah dengan gradient konsentrasi namun kecepatannya dalam difusi dipercepat.
2. Kebanyakan difasilitasi oleh protein membran
3. Kebanyakan membutuhkan ATP (energi)

Jenis-Jenis Transport aktif


Ada beberapa jenis transportasi aktif yang terjadi pada mikroorganisme, yaitu :

1. Carrier-mediated active transport

Carrier-mediated active transport adalah transport aktif yang difasilitasi oleh protein carrier dan melibatkan ATP. Protein carrier akan mengikat senyawa terlarut yang sebelumnya telah terikat oleh protein tertentu (solute binding protein). Ketika ikatan terjadi, ATP yang juga menempel pada protein carrier akan teraktifasi dan mengeluarkan energi. Energi tersebut kemudian digunakan untuk mendorong molekul untuk masuk atau keluar sel melewati protein carrier.
Arah dari transportasi aktif model ini memiliki dua arah, yaitu bisa masuk ke dalam atau ke dalam sel. Beberapa bakteri akan mengangkut gula, asam amino, vitamin dan fosfat ke dalam sel. Beberapa bakteri menggunakan mekanisme transport aktif ini untuk mengeluarkan ion-ion tertentu keluar sel, ion tersebut adalah K+, Na+, H+.
jenis jenis transport aktif, transport ion ke dalam sel, transport ion K+, Na+, dan H+ , Transport gula, asam amino,vitamin ke dalam sel
Gambar 1. Transport aktif pada mikroorganisme model Carrier-mediated active transport; Senyawa atau yang masuk ke dalam sel difasilitasi oleh protein karier dan melibatkan ATP

Baca Juga :Heterotrof dan autotrof

2. Group translocation

. Group translocation juga merupakan transport aktif pada sel yang difasilitasi oleh suatu protein membran tertentu namun ketika melewati protein membran tersebut, senyawa yang ditransport dikonversi menjadi senyawa lain. Senyawa lain hasil konversi tersebut biasanya langsung digunakan oleh sel untuk proses metabolismenya. Misalnya ketika fruktosa ditransport ke dalam sel, pada membran sel, fruktosa tersebut ditambah dengan gugus fosfat sehingga langsung bisa masuk dalam proses metabolisme.
jenis jenis transport aktif adalah, cara transport fruktosa
Gambar 2. Transport aktif pada mikroorganisme model Group translocation; Ketika melewati protein karier, senyawa yang ditransport akan diubah atau dimodifikasi menjadi senyawa lain


3. Endositosis

Endositosis adalah suatu proses dimana suatu sel menelan partikel, cairan, atau senyawa yang ukurannya besar. Terkadang suatu sel, termasuk sel dari mikroorganisme memerlukan senyawa, atau bahkan sel lain yang ukurannya besar. Senyawa yang dibutuhkan tersebut sangat sulit jika dimasukkan dalam sel melalui protein membran sel, oleh karena itu, senyawa yang dibutuhkan tersebut akan dimasukkan ke dalam sel dengan mekanisme endositosis. Awalnya, membran sel akan memanjang dan mengelilingi senyawa tersebut, kemudian menelannya.

Baca Juga : Sumber dan Bentuk Nutrisi Bakteri

Berdasarkan bentuk senyawa yang ditelan oleh sel, endositosis dibedakan menjadi 2, yaitu fagositosis dan pinositosis.
endositosis, bagaimana sel makan, bagaimana sel menelan sel, bagaimana mekanisme fagositosis
Gambar 3. Proses fagositosis pada mikroorganisme; Fagositosis merupakam salah satu variasi dari endositosis; Disebut fagositosis jika sel memakan atau menelan benda atau partikel padat.

Fagositosis adalah proses ditelannya partikel padat atau solid oleh sel. Fagositosis seringkali dilakukan oleh amoeba untuk menelan makanannya. Sel darah putih juga menggunakan mekanisme fagositosis untuk menelan sel-sel lain yang telah rusak.

Pinositosis adalah proses ditelannya cairan oleh suatu sel. Mekanisme pinositosis dilakukan oleh sel untuk menelan tetesan minyak atau nutrisi ddalam bentuk larutan.
pinositosis adalah, transport aktif pada mikroorganisme
Gambar 3. Proses pinositosis pada mikroorganisme; Pinositosis merupakan salah satu variasi dari endositosis; disebut pinositosis jika sel memakan atau menelan nutrisi dalam bentuk larutan.

Demikian postingan tentang Transport aktif pada Mikroorganisme, Semoga Bermanfaat

Read more

Transport pasif : Difusi, osmosis dan difusi terfasilitasi


Difusi


Difusi adalah perpindahan suatu molekul atau senyawa dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah. Semua molekul di alam, baik dalam bentuk padat, cairan ataupun gas memiliki kecenderungan untuk terus bergerak atau melakukan perpindahan. Contoh terjadinya difusi adalah ketika setitik parfum menetes di dalam kamar, seketika bau parfum tersebut akan menyebar ke seluruh kamar. Difusi juga terjadi ketika segumpal gula dimasukkan ke dalam secangkir teh, gula tersebut berangsur-angsur akan menyebar ke seluruh the walaupun tanpa diaduk terbukti the akan terasa manis.

Baca Juga : Heterotrof dan autotrof

Ada dua macam difusi yang terjadi pada sel, yaitu osmosis dan difusi terfasilitasi.

Osmosis

Osmosis adalah proses difusi air melewati membran selektif permeable. Air dapat melewati membran tersebut, namun molekul atau senyawa lain yang terlarut tidak bisa melewatinya. Ketika ada dua larutan dengan konsentrasi berbeda dipisahkan oleh membran selektif permeable, air akan berdifusi dari larutan dengan konsentrasi air yang tinggi menuju larutan dengan konsentrasi air yang lebih rendah hingga konsentrasi air dari kedua larutan tersebut sama.
Membran sel mikroorganisme juga mempunyai sifat selektif permeable, yaitu air dapat dengan mudah berdifusi masuk atau keluar sel, namun beberapa senyawa lain tidak bisa berdifusi keluar masuk ke dalam sel.
Ada beberapa kondisi yang mementukan proses osmosis dalam sel, yaitu :

- Isotonik

Isotonik adalah kondisi dimana konsentrasi air di dalam sel dan di luar sel sama.

- Hipotonik

Hipotonik adalah kondisi dimana konsentrasi air di di luar sel lebih tinggi (konsentrasi terlarut rendah ) daripada di dalam sel. Kondisi tersebut menyebabkan air di luar sel akan cenderung masuk ke dalam sel. Jika berada dalam lingkungan hipotonik, sel tanda dinding sel akan membengkak dan bahkan pecah. Namun hampir semua bakteri dapat bertahan atau toleran pada lingkungan hipotonik karena bakteri memiliki dinding sel. Dinding sel tersebut berfungsi menahan sel agar tidak pecah.

Baca Juga : Plasmodium Penyebab Penyakit Malaria

Transport pasif ,Difusi, osmosis dan difusi terfasilitasi, sel pada larutan hipertonik, sel pada larutan hipotonik, sel tanpa dinding sel.
Gambar 1. Kondisi sel tanpa dinding sel ketika berada dalam lingkungan isotonik (kiri), hipotonik (tengah) dan hipertonik (kanan)


- Hipertonik

Hipertonik adalah kondisi dimana konsentrasi air di di luar sel lebih rendah (konsentrasi terlarut tinggi) daripada di dalam sel. Kondisi tersebut menyebabkan air di dalam sel akan cenderung keluar sel. Keluarnya air dari dalam sel menyebabkan sel menyusut. Hal tersebut dapat menyebabkan sel rusak bahkan mati. Namun sel yang memiliki dinding sel, seperti sel bakteri sedikit lebih tahan dalam kondisi hipertonik karena dinding sel dapat menngurangi kerusakan sel. Meskipun demikian, pertumbuhan bakteri akan terhambat ketika berada dalam kondisi hipertonik sehingga hal tersebut dimanfaatkan untuk proses pengawetan, seperti pada penggaraman ikan yang bertujuan agar ikan tidak cepat membusuk.
osmosis pada bakteri, difusi pada bakteri, transport aktif, transport aktif pada bakteri
Gambar 2. Sel ketika dinding sel ketika berada dalam lingkungan isotonik (kiri), hipotonik (tengah) dan hipertonik (kanan)
Beberapa organisme melakukan adaptasi untuk dapat bertahan hidup di lingkungannya. Alga dan amoeba yang hidup di air tawar (hipotonik) harus melakukan adaptasi karena air akan terus masuk ke dalam selnya. Alga mempunyai dinding sel yang mencegah agar sel tidak pecah, Amoeba tidak mempunyai dinding sel, sehingga amoeba menggunakan vakuola kontraktil untuk memompa air secara terus menerus keluar dari sel.
Mikroba yang hidup di lingkungan dengan kadar garam tinggi (hipertonik) juga melakukan adaptasi untuk tetap bertahan hidup. Halobakteria yang hidup di laut mati (kadar garam tinggi) melakukan adaptasi dengan menyerap garam ke dalam selnya sehingga terbentuk kondisi isotonik dengan lingkungannya.


Difusi terfasilitasi (facilitated diffusion)

Senyawa-senyawa non-polar seperti air, oksigen dan protein terlarut dapat dengan mudah berdifusi keluar atau masuk ke dalam sel. Namun proses difusi melewati membran sel tersebut tidak bisa terjadi dengan mudah pada senyawa-senyawa yang bersifat polar meskipun gradient / perbedaan konsentrasi cukup besar. Padahal sel membutuhkan banyak senyawa-senyawa yang bersifat polar untuk metabolismenya, sehingga sel melakukan mekanisme yang disebut dengan difusi terfasilitasi (facilitated diffusion) untuk membawa masuk senyawa atau ion polar ke dalam selnya.
Difusi terfasilitasi (facilitated diffusion) adalah proses difusi senyawa atau ion ke dalam sel yang dibantu atau difasilitasi oleh suatu protein membran (carrier protein). Protein membran (carrier protein) tersebut akan berikatan dengan senyawa / ion yang akan difasilitasi kemudian melalui protein tersebut masuk ke dalam sel.
Protein membran (carrier protein) yang memfasilitasi proses difusi tersebut bersifat sepesifik, artinya satu protein tersebut hanya memfasilitasi difusi satu senyawa / ion saja. Sebagai contoh, carrier protein yang memfasilitasi proses difusi glukosa berbeda dengan carrier protein yang memfasilitasi proses difusi sodium. Carrier protein yang memfasilitasi proses difusi glukosa tidak bisa memfasilitasi proses difusi sodium.
difusi senyawa polar, difusi glukosa, difusi sodium, proses difusi, Transport pasif : Difusi, osmosis dan difusi terfasilitasi
Gambar 3. Difusi terfasilitasi (facilitated diffusion) yang terjadi pada membran fosfolipid bilayer

Demikian postingan tentang Transport pasif : Difusi, osmosis dan difusi terfasilitasi. SEMOGA BERMANFAAT


Read more

Heterotrof dan autotrof


Unsur Karbon (K) sangat diperlukan oleh makhluk hidup di bumi ini, termasuk bakteri, karena merupakan penyusun utama dari berbagai struktur tubuhnya. Berdasarkan sumber karbonya, organisme digolongkan menjadi 2, yaitu heterotrof dan autotrof.

Heterotrof


Heterotrof adalah organisme yang sumber karbonnya dalam senyawa organik. Kerena hampir semua senyawa organik berasal dari makhluk hidup, organisme heterotroph dapat dikatakan bahwa sumber karbonnya berasal dari organisme lain. Sumber karbon bagi heterotrof dapat berupa karbohidrat, protein, lemak dan asam nukleat.


Baca Juga : Pertumbuhan, Reproduksi dan Rekombinasi Bakteri

 Mikroorganisme heterotrof kebanyakan adalah kemoorganotrof yang mendapatkan karbon dan energi dari senyawa organik. Proses pemanfaatan senyawa organik tersebut melalui proses respirasi atau fermantasi dan menghasilkan energi dalam bentuk ATP.
Semua organisme kemoheterotrof membutuhkan senyawa organik namun cara mendapatkan senyawa organik tersebut berbeda-beda. Ada yang pemakan rumput atau predator namun mikroorganisme kemoheterotrof lebih dominan sebagai saprobic dan symbiont.
Saprobic adalah mikroorganisme yang hidup bebas dan memakan sisa-sisa organisme yang telah mati. Symbiont adalah organisme yang sumber nutrisinya diperoleh dari organisme hidup. Kedua definisi tersebut tidaklah absolut karena beberapa organisme saprobic dapat beradaptasi untuk memakan organisme hidup dan organisme symbiont dapat beradaptasi untuk memakan sisa-sisa organisme.
Organisme saprobic berperan sebagai sampah-sampah senyawa organik seperti serasah tanaman, kotoran hewan dan organisme yang mati. Jika organisme saprobic berhenti bekerja, maka bumi akan dipenuhi oleh sampah-sampah organik dan nutrient yang terkandung di dalamnya tidak terdaur ulang.
Hampir semua organisme saprobic merupakan bakteri atau jamur, keduanya memliki dinding sel sehingga tidak dapat menelan sisa-sisa bahan organik yang berukuran besar. Oleh karena itu, bakteri atau jamur mampu menghasilkan enzim ekstraselular yang dapat mencerna atau memecah senyawa besar menjadi lebih kecil dan lebih sederhana, sehingga dapat dimasukkan ke dalam sel bakteri atau jamur.
Heterotrof dan autotrof, reaksi enzimatis, bakteri, bakteri saprobic
Enzim ekstraseluler mampu memecah senyawa besar menjadi lebih kecil dan lebih sederhana, sehingga dapat dicerna oleh sel bakteri atau jamur.


Banyak organisme saprobic yang hidupnya benar-benar hanya bergantung pada sisa-sisa bahan organik yang ada di tanah atau di air dan tidak mampu hidup dalam tubuh oganisme hidup, organisme tersebut seringkali dinamakan dengan organisme non patogenik.

Baca Juga : Sumber dan Bentuk Nutrisi Bakteri

Organisme heterotroph yang hidup di dalam tubuh, menginfeksi dan bergantung organisme lain disebut dengan parasit. Parasit yang tumbuh dan hidup di dalam jaringan yang seharusnya steril serta menyebabkan kerusakan bahkan kematian inang disebut dengan patogen.
Organisme saprobic juga dapat beradaptasi dan dapat menginfeksi organisme lain yang rentan. Organisme saprobic tersebut dinamakan dengan fakultatif parasit.
Ada beberapa parasit yang dinamakan dengan obligat parasit. Obligat parasit adalah organisme yang hidupnya benar-benar bergantung terhadap organisme lain atau inang dan tidak bisa hidup di luar inang tersebut.

Autotrof


Autotrof adalah organisme yang menggunakan CO2 sebagai sumber karbonnya karena organisme autotrof mampu mengubah CO2 menjadi senyawa organik.
Berdasarkan sumber energinya, organisme autotrof digolongkan menjadi dua, yaitu fotoautotrof dan kemoautotrof.

Fotoautotrof

Fotoautotrof adalah organisme yang menggunakan sinar matahari sebagai sumber energinya atau dengan kata lain organisme fotoaututrof adalah organisme yang dapat melakukan fotosintesis. Organisme fotoautotrof mempunyai suatu pigmen khusus yang berfungsi menyerap energi matahari yang kemudian dimanfaatkan untuk mengubah CO2 menjadi senyawa organik.
Ada dua macam variasi dari fotosintesis, yaitu fotosintesis oksigenik dan fotosintesis non-oksigenik.


Baca Juga : Neisseria gonorrhoeae, Bakteri penyebab Penyakit Gonorrhea

Fotosintesis oksigenik adalah fotosintesis yang dalam prosesnya selain menghasilkan senyawa organik (karbohodrat) juga menghasilkan oksigen (O2). Fotosintesis oksigenik terjadi pada tanaman, alga, dan cyanobacteria. Ciri dari organisme yang melakukan fotosintesis oksigenik adalah memiliki klorofil untuk menyerap energi matahari. Berikut adalah persamaan dari fotosintesis oksigenik :
fotosintesis oksigenik, autotrof, bakteri autotrof

Fotosintesis non-oksigenik adalah fotosintesis yang dalam prosesnya tidak menghasilkan oksigen (O2). Karakteristik fotosintesis non-oksigenik adalah sebagai berikut :
- Menangkap energi matahari menggunakan pigmen yang disebut dengan bakterioklorofil.
- Sumber ion hidrogennya adalah gas hidrogen sulfida
- Selain menghasilkan senyawa organik (karbohidrat), juga menghasilkan sulfur
- reaksi dapat terjadi di lingkungan tanpa oksigen.

Berikut persamaan fotosintesis non-oksigenik :
heterotrof dan autotrof, fotosintesis bakteri


Kemoautotrof


Kemoautotrof adalah organisme yang memanfaatkan senyawa kimia anorganik sebagai sumber energinya. Bakteri kemoautotrof biasanya hidup di daerah-daerah yang sangat ekstrim karena bakteri tersebut sama sekali tidak membutuhkan cahaya matahari ataupun senyawa organik.
Salah satu contoh kemoautotrof adalah bakteri metanogen atau seringkali disebut dengan archaebakteria. Habitat dari archaebakteria merupakan lingkungan yang ekstrim, yaitu di perairan yang panas, kawah gunung merapi dan bagian terdingin dan terdalam dari lautan.
Bakteri metanogen memproduksi gas metana dengan mereduksi gas CO2 menggunakan gas hidrogen pada kondisi anaerob. Berikut reaksinya :

kemoautotrof, bakteri metanogen, persamaan bakteri metanogen

Demikian postingan tentang Heterotrof dan autotrof, SEMOGA BERMANFAAT.

Read more

Sumber dan Bentuk Nutrisi Bakteri


Nutrisi dan Nutrien


Habitat adalah tempat hidup yang cocok untuk makhluk hidup. Di alam, makhluk hidup, termasuk bakteri, terpapar berbagai kondisi alam yang beragam dan mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi makhluk hidup terutama bakteri adalah nutrisi, sumber energi, suhu, kandungan gas, air, garam, pH, radiasi dan organisme lain.

Untuk dapat hidup di alam atau lingkungan, bakteri melakukan proses adaptasi. Adaptasi adalah mekanisme penyesuaian anatomi dan fisiologi makhluk hidup termasuk bakteri untuk dapat bertahan hidup di lingkungan.

Salah satu kebutuhan bakteri yang harus didapatkan dari alam adalah nutrisi. Nutrisi adalah adalah komponen-komponen atau senyawa-senyawa kimia yang dibutuhkan oleh bakteri untuk bertahan hidup. Senyawa-senyawa kimia tersebut dinamakan dengan nutrient.

Secara umum, semua makhluk hidup juga membutukan bioelement. Bioelement tersebut adalah karbon, hidrogen, oksigen, fosfor, kalium, nitrogen, belerang, kalsium, besi, natrium, klor, magnesium, dan beberapa elemen lainnya.

Ada nutrient yang disebut dengan nutrisi essensial. Nutrisi essensial adalah nutrisi atau bioelement yang dibutuhkan oleh makhluk hidup dan harus didapat dari luar selnya / dari alam.

Nutrisi essensial dikatagorikan menjadi 2 jenis, yaitu makronutrien dan mikronutrien.

Makronutrien adalah nutrisi essensial yang dibutuhkan dalam jumlah yang relatif besar dan mempunyai peran penting dalam metabolisme serta struktur sel. Contoh dari makronutrien adalah gula dan asam amino. Kedua senyawa tersebut tersusun dari unsur karbon, hidrogen, oksigen.

Mikronutrien atau yang disebut dengan trace elemen adalah nutrisi essensial atau senyawa yang dibutuhkan dalam jumlah yang lebih sedikit. Mikronutrien biasanya terlibat dalam berbagai reaksi enzimatis dan menjaga struktur protein. Contoh dari  mikronutrien adalah mangan, zinc, nikel dll
Kebutuhan akan mikronutrien tiap-tiap spesies bakteri berbeda-beda. Kebutuhan mikronutrien tiap-tiap spesies tersebut dalam ditentukan atau dipelajari di laboratorium. Di laboratorium, bakteri ditumbuhkan dalam suatu media tanpa ditambahkan mikronutrien tertentu dan dilihat apakah bakteri tersebut dapat hidup tanpa mikronutrien tersebut.

Berdasarkan kandungan karbon, nutrient juga dikelompokkan menjadi dua, yaitu nutrien organik dan nutrient anorganik
Nutrien organik adalah nutrien yang tersusun dari unsur karbon (O) dan hidrogen (H). Nutrien organik tersebut bervariasi dari bentuk yang paling sederhana, contohnya metana (NH4), hingga ke bentuk polimer kompleks seperti karbohidrat, lemak, protein, dan asam amino.

Nutrien anorganik adalah nutrien yang tersusun tanpa unsur karbon (O) dan hidrogen (H). Nutrien anorganik berasal dari tanah, terkandung dalam air, dan di air. Contoh dari nutrien anorganik diantaranya adalah logam dan garamnya (magnesium sulfate, ferric nitrate,sodium phosphate), gas (oksigen, karbondioksida) dan air.
nutrisi bakteri, bakteriologi


Kandungan Nutrien pada Sel


Sebelum mengetahui dan menyimpulkan kebutuhan nutrien dari makhluk hidup, termasuk bakteri, perlu dipahami kandungan senyawa-senyawa atau unsur-unsur yang terkandung dalam sel. Berikut adalah kandungan nutrien yang berada dalam bakteri Escherichia coli :
- Air merupakan penyusun terbesar, yaitu sekitar 70 % dari sel bakteri Escherichia coli dan sekitar 97 % dari berat kering sel tersusun dari senyawa organik.
- Hampir seluruh senyawa organik penyusun sel adalah protein
- Sekitar 96 % penyusun sel adalah unsur karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfat dan sulfur
- Unsur-unsur yang diserap maupun yang dibutuhkan oleh sel hampir semuanya bukan merupakan bentuk murni.
- Pada sebuah sel sederhana, yaitu sel bakteri Escherichia coli, terdapat sekitar 5.000 senyawa yang berbeda. Senyawa-senyawa tersebut hanya berasal dari beberapa macam nutrien yang diserap oleh sel, diantaranya (NH4)SO4, FeCl2, NaCl, mikronutrien, glukosa, KH2PO4, MgSO4, CaHPO4, dan air.

Sumber dan Fungsi nutrisi essensial serta trace elemen

1. Karbon

Di alam, unsur karbon berbentuk gas karbondioksida (CO2), karbonat (CO32-) dan senyawa organik. Unsur karbon berasal dari udara, tanah / sedimen, makhluk hidup.
Fungsi =
Gas karbondioksida (CO2) merupakan hasil dari proses respirasi dan digunakan oleh tanaman untuk proses fotosintesis.
karbonat (CO32-) merupakan senyawa penyusun dindin sel dan kerangka.
Senyawa organik merupakan penyusun struktur semua makhluk hidup dan virus.

2. Nitrogen

Unsur nitrogen tersedia di alam dalam bentuk gas N2, nitrate (NO3-), nitrit (NO2-), ammonium (NH3), nitogen organik (protein, asam amino). Unsur nitrogen dapat diperoleh dari udara, tanah, air, dan makhluk hidup. Sekitar 79% penyusun gas di atmosfer adalah unsur nitrogen.
Nitrogen dapat dimanfaatkan oleh organisme oleh alga, tanaman dan beberapa bakteri dalam bentuk nitrate (NO3-), nitrit (NO2-), ammonium (NH3). Hewan dan protozoa memperoleh nitrogen dari nitrogen organik. Semua organisme menggunakan NH3 untuk membentuk asam amino dan asam nukleat.

3. Oksigen

Di alam, oksigen tersedia dalam bentuk gas O2, oksida, dan air (H2O). Oksigen dapat diperoleh dari air, tanah, dan merupakan hasil dari proses fotosintesis. Gas oksigen dibutuhkan organisme yang bersifat aerob untuk proses metabolismenya.

4. Hidrogen

Unsur tersedia di alam dalam bentuk gas H2, H2O, hidrogen sulfida (H2S), metana (CH4) dan senyawa organik. Hidrogen dapat diperoleh dari perairan, rawa, lumpur
gunung berapi, organisme
Fungsi =
Air merupakan senyawa yang paling mendominasi dalam sel dan merupakan pelarut untuk berbagai reaksi metabolik. Gas H2, hidrogen sulfida (H2S) adalah gas yang dapat dihasilkan dan dipergunakan oleh bakteri dan archaebakteria. Ion H+ sangat penting untuk tranfer energi dalam sel dan sangat penting untuk menjaga kestabilan pH dalam sel.

5. Fosfor

Fosfat (PO43-) merupakan bentuk fosfor yang ada di alam. Fosfor dapat diperoleh dari bebatuan, deposit mineral, dan tanah. Fosfat merupakan komponen penyusun DNA dan RNA yang merupakan materi genetik bagi semua organisme. Fosfat ditemukan dalam ATP dan NAD yang berperan dalam berbagai reaksi metabolisme. Selain itu, fosfat itu juga ditemukan dalam fosfolipid yang berperan penyusun membran sel.

6. Sulfur

Sulfur tersedia di alam bentuk sulfur murni, sulfat (SO42-) dan sulfydril (SH). Sulfur dapat diperoleh dari deposit mineral, sedimen vulkanik dan tanah.
Sulfur dapat dioksidasi oleh beberapa bakteri untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi. Unsur sulfur merupakan penyusun dari vitamin B1 dan gugus sulfidril. Gugus sulfidril tersebut merupakan penyusun dari ikatan disulfide pada beberapa asam amino.

7. Potassium dan Sodium

Potassium dan sodium dapat dimanfaatkan oleh organisme dalam pentuk ion, yaitu ion K+ dan ion Na+. Di alam, sumber dari kedua unsur tersebut dari deposit mineral, tanah, dan air laut. Potassium berperan dalam sintesis protein dan transportasi senyawa melewati membran sel. Sodium berperan memelihara tekanan osmotik dari sel.

8. Kalsium

Kalsium dapat dimanfaatkan bakteri dalam bentuk ion Ca+. Di alam, kalsium berasal dari sedimen laut, bebatuan dan tanah. Kalsium merupakan penyusun dari cangkang (CaCO3), menstabilkan dinding sel, menambah resistensi dari endospore bakteri.

9. Magnesium

Di alam, Magnesium bisa didapati dan dimanfaatkan oleh organisme dalam bentuk ion magnesium (Mg2+). Sumber dari magnesium adalah sedimen geologi, bebatuan dan tanah. Magnsium merupakan atom pusat pada klorofil, diperlukan untuk fungsi membran, ribosom dan beberapa enzim.

10. Klorida

Klorida dapat dimanfaatkan oleh organisme dalam bentuk ion klorida (Cl-). Sumber klorida adalah air laut dan garam di danau. Ion klorida (Cl-) berperan dalam transport membran dan sangat dibutuhkan oleh bakteri halofilik untuk menjaga tekanan osmotiknya.

11. Zink

Unsur zink dapat dimanfaatkan oleh organisme dalam bentuk ion (Zn2+). Sumber zink adalah bebatuan dan tanah. Zink berperan sebagai kofaktor enzim dan mengatur gen eukariotik.

12. Besi

Besi dapat dimanfaatkan oleh organisme dalam bentuk ion (Fe2+). Sumber besi di alam adalah bebatuan dan tanah. Besi berperan penting dalam fungsi sitokrom.

13. Mikronutrien

Beberapa mikronutrien yang dibutuhkan oleh organisme diantaranya adalah tembaga, kobalt, nikel, molibdenum, mangan, yodium. Sumber mikronutrien di alam adalah sedimen geologi dan tanah. Mikronutrien diperlukan organisme dalam jumlah sedikit sebagai kofaktor reaksi enzimatis.

Demikian postingan tentang Sumber dan Bentuk Nutrisi Bakteri, Semoga Bermanfaat
Read more