Karakteristik, Struktur, dan Reproduksi Jamur

Klasifikasi jamur 

Klasifikasi jamur menjadi perdebatan pada beberapa dekade. Jamur pada awalnya dimasukkan dalam  kingdom  Plantae namun beberapa ahli menemukan ciri-ciri yang spesifik dan berbeda dengan tumbuhan sehingga jamur dditempatkan dalam kingdom tersendiri yaitu Kingdom Fungi atau Eumycota.

Ada sekitar 1000.000 spesies jamur yang telah diketahui, namun para ilmuwan memperkirakan ada sekitar 1,5 juta spesies yang belum diketahui. Untuk  mempermudah mempelajarinya para ilmuwan Menggolongkan jamur menjadi dua kelompok yaitu jamur  makroskopis   dan mikroskopis. Jamur makroskopis adalah jamur-jamur yang bisa dilihat langsung oleh mata misalnya jamur tiram.  sedangkan  jamur mikroskopis adalah jamur-jamur yang ukurannya sangat kecil sehingga harus diamati dengan mikroskop. Jamur mikroskopis terdiri dari kapang (mold) dan khamir (yeast). Sifat kimia dari jamur adalah dinding selnya mengandungi polisakarida dan kitin serta terdapat sterol dan ergosterol dalam membran selnya. Kapang (mold) mempunyai struktur yang disebut dengan hifa.


Karakteristik Jamur, gambar hifa
Gambar kapang; a) Jamur pada makanan kadaluarsa, b). gambar pengamatan mikroskop dari hifa, c). gambar skematis dari hifa

Hifa merupakan struktur yang mirip dengan benang yang menyusun bagian kapang. Yeast merupakan struktur berbentuk bulat atau oval. Yeast berkembangbiak dengan membentuk tunas (budding) di permukaannya. Tunas dari permukaan tersebut akan membesar dan membentuk sel baru dan berpisah dengan indukannya. Namun terkadang anakan sel tersebut tidak memisah dari indukan dan bergandeng-gandeng membentuk rantai mirip dengan hifa, seperti pseudohifa.

Baca Juga : Praktikum Mikologi : Pengenalan Mikroskopik Jamur

Beberapa jamur dalam siklus hidupnya hanya berbentuk hifa atau hanya berbentuk yeast. Namun ada beberapa juga jamur yang mempunyai dua bentuk, pada suatu ketika membentuk hifa dan pada suatu kondisi tertentu dapat berbentuk yeast. Jamur yang dapat membentuk hifa dan membentuk yeast disebut dengan jamur dimorfik. Jamur-jamur patogen biasanya merupakan jamur dimorfik.


Ciri-ciri jamur yeast
Gambar yeast; a). bagian-bagian organella yeast, b). gambar pengamatan mikroskop dari yeast, c). perkembanggiakan yeast (atas), yeast yang membentuk pseudohifa

Semua jenis jamur bersifat Heterotrof, Artinya mendapatkan nutrisi atau makanan dari senyawa organik lain Karena tidak dapat  memproduksi makanan sendiri seperti tumbuh-tumbuhan. Sebagian besar bersifat saprobe, yaitu mendapatkan nutrisi dari sisa-sisa tumbuhan dan sisa-sisa hewan yang telah mati. Ada sebagian kecil jamur yang bersifat parasit yaitu hidup dalam organisme lain.

Untuk memperoleh nutrisi, jamur mempunyai organela yang dapat menembus subtrat serta memiliki enzim yang dapat mencerna substrat menjadi lebih kecil sehingga dapat diserat oleh jamur. Enzim tersebut dapat memecah berbagai subtrat seperti bulu, rambut, selulosa, produk minyak bumi, kayu, dan karet.

Jamur sangat adaptif dan mampu hidup di berbagai lingkungan seperti lingkungan asam, lingkungan dengan suhu tinggi, lingkungan kaya garam dan lain-lain.

Jamur sangat berpengaruh di bidang pertanian dan kesehatan. Banyak sekali spesies jamur yang menginfeksi atau parasit pada hewan, manusia dan tumbuhan.


Struktur Kapang
Kapang, atau sering juga disebut jamur berfilamen secara umum dapat membentuk koloni seperti bakteri. Koloni kapang tersusun oleh miselium. Miselium tersusun oleh struktur seperti benang yang disebut dengan hifa. Hifa merupakan kumpulan dari sel-sel kapang. Sebagian hifa mempunyai karakteristik unik yaitu terdapat septa. Septa adalah sekat yang memisahkan tiap-tiap sel kapang. Namun ada hifa yang tidak memiliki septa. Hifa tersebut dinamakan dengan hifa nonsepta.

Reproduksi Pada Jamur
Jamur sangat mudah menyebar karena mempunyai beberapa cara untuk  berkembangbiak. Hifa jamur dapat terputus dan  masing-masing  dapat berkembang menjadi koloni. Selain itu, jamur dapat membentuk spora. Spora jamur ada 2 jenis, yaitu spora seksual dan aseksual.
Spora aseksual jamur
Spora aseksual dibedakan menjadi 2 yaitu :
1. Sporangiospora
Sporangiospora terbentuk dalam sebuah kantong yang disebut sporangium. Sporangium disangga oleh suatu tangkai yang disebut sporangiofor. Spora terbungkus dalam sporangium dan akan keluar ketika sporangium pecah. 
2. Konidia
Konidia merupakan spora yang terbentuk tanpa tertutup sporangium. Spora jamur sebagian besar berbentuk konidia. Konidia mempunyai beberapa bentuk, diantaranya :
  • arthrospora
arthrospora adalah spora yang berbentuk persegi panjang.
  • klamidospora 
klamidosporaadalah konidia yang berbentuk bola dan terbentuk dari penebalan hifa.
  • blastospora
blastospora adalah spora yang dihasilkan dari proses pertunasan (budding) dari sel kapang / yeast.

  • phialospora 
phialospora adalah spora yang muncul sel yang berbentuk vas. Sel tersebut dinamakan phialide atau sterigma.
  • microconidia dan macroconidia
microconidia adalah konidia yang terdiri dari 1 sel, sedangkan macroconidia terdiri dari 2 sel atau lebih

  • porospora

porospora adalah spora yang mucul dari pori-pori sel jamur.

arthrospora, klamidospora, blastospora, phialospora, microconidia, macroconidia, porospora, Sporangiospora
Spora aseksual jamur (a) sporangiosfor, (b) macam-macam bentuk konidia, (arthrospora, klamidospora, blastospora, phialospora, microconidia, macroconidia, porospora)

Spora seksual jamur

Selain berkembang biak secara aseksual dengan membentuk spora dan pemisahan hifa, jamur juga dapat berkembang biak secara seksual dengan pembentukan spora seksual. Salah satu tujuan perkembangbiakan jamur secara seksual adalah untuk memperkaya variasi genetik diantara spesies jamur sehingga memperbesar kemungkinan untuk tetap bertahan hidup (survive) dalam menghadapi seleksi alam.

Perkembangbiakan jamur secara seksual juga dengan membentuk spora, namun spora tersebut merupakan hasil dari penyatuan materi genetik dari 2 individu yang berbeda. Ada tiga jenis spora seksual jamur yang dikenal, yaitu zygosspora, askospora dan basidiospora.

Baca Juga : mikologi Praktikum Mikologi : Isolasi Jamur Dari Udara Dan Makanan

1.Zygosspora

 Zygospora adalah spora hasil penyatuan hifa strain (+) dan hifa strain (-). Hasi penyatuan tersebut membentuk zigot diploid yang membengkak dan tertutup oleh dinding kuat dan sedikit berduri. Ketika kondisi mendukung, Zygospora akan berkecambah membentuk miselium dan sporangium. Sel pada sporangium akan membelah secara meiosis membentuk sel haploid  yang kemudian berkembang menjadi  sporangiospora. Secara fisik sporangiospora tersebut morfologinya  sama dengan Sporangiospora  aseksual namun secara genetik berbeda karena sporangiospora seksual merupakan hasil penyatuan dua  indukan jamur.

2. Ascospora

 Ascospora merupakan spora seksual yang berada dalam kantong yang disebut dengan ascus. Ascospora terbentuk dari penyatuan 2 strain jamur yang berbeda, yaitu strain jantan dan strain betina. Penyatuan tersebut membentuk dikarion yang merupakan sel haploid. Dikarion berdiferensiasi membentuk ascus. Tiap-tiap sel membelah secara meiosis membentuk 4 hingga 8 inti sel dan akan mengalami pematangan membentuk ascospora.

Karakteristik Jamur, spora jamur, ascospora adalah
Pembentukan ascospora

3. Basidiospora

Basidiospora adalah spora seksual yang berada di permukaan bawah tudung buah (basidiocsrp). Pembentukan tudung buah tersebut diawali dengan penyatuan dua strain jamur. Sel diploid hasil penyatuan tersebut membentuk basidium dan inti selnya membelah secara meiosis membentuk 4 sel haploid yang selanjutnya berkembang menjadi basidiospora. 


perkembang biakan jamur, penyebaran jamur
Proses pembentukan Basidiospora

Demikian postingan tentang Karakteristik, Struktur, dan Reproduksi Jamur, Semoga Bermanfaat.
Load disqus comments

0 comments